Keberadaan Anjing Liar Mulai Dikeluhkan
DENPASAR - Keberadaan anjing liar di kawasan wisata Sanur mulai dikeluhkan warga dan pengelola hotel. Dikhawatirkan anjing liar mengganggu kenyamanan wisatawan dan berpotensi menyebarkan rabies.
Masyarakat desa adat setempat bersama organisasi peduli hewan gencar menyosialisasikan upaya pengendalian hewan buas, termasuk mengantisipasi penyebaran virus mematikan rabies.
Upaya mengeliminasi anjing liar di antaranya menggunakan metode sterilisasi dengan menangkap anjing memakai tulup. Anjing tersebut kemudian divaksinasi.
”Kami upayakan menutup daerah yang menjadi populasi anjing liar sehingga tidak ada anjing lain yang masuk atau tidak ada yang tertular rabies,” kata Manajer Operasional Yayasan Yudisthira Swarga, Wayan Mudiarta, Jumat (20/7/2012).
Diakui Mudiarta, pihaknya banyak menerima keluhan masyarakat, pemilik hotel atau vila di kawasan Sanur terkait keberadaan anjing liar. Namun, keluhan dari wisatawan asing atau domestik, belum ada.
Dari pendataan, saat vaksinasi massal tahap I pada 2011 lalu, diperkirakan populasi anjing liar di Sanur mencapai 1.813 ekor. Dari jumlah itu, ada sekira 15 ekor yang sulit ditangkap dan masih berkeliaran di obyek wisata andalan di Kota Denpasar tersebut.
Meski demikian, berdasarkan pengamatannya, anjing liar tersebut belum terindikasi terjangkit virus rabies. Bila terkena rabies pasti akan menggigit anjing lain atau segera mati.
”Kalau ada gejala rabies paling lama 14 hari pasti anjing itu akan mati atau menggigit anjing lainnya,” imbuhnya.
Jumlah korban gigitan rabies di wilayah Sanur juga mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Hal itu tak lepas dari program pemberantasan rabies yang gencar dilakukan melibatkan pemerintah, desa adat, dan pihak swasta.