Sri Mulyani: Negara Berkembang Jadi Pilar Ekonomi Dunia
Kamis, 12 Juli 2012 12:56 wib
Ilustrasi. (Foto: Corbis)
JAKARTA - Krisis global yang terjadi pascajatuhnya Lehman Brothers belum menemukan jalan titik cerah. Meski begitu, sejumlah negara-negara yang tadinya tidak dipandang kini menjadi pilar penting penyangga perekonomian dunia.
Managing Director World Bank Sri Mulyani Indrawati mengungkapkankan, saat ini negara-negara berkembang menjadi pemain yang penting. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi global tidak lepas dari peran negara-negara ini.
"Negara berkembang keadaan ekonmi terkait dengan keterkaitan dengan kemajuan 70 persen kemajuan di asia khususnya Asia Selatan," ungkap dia kala ditemui di gedung BKPM, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (12/7/2012).
Dia melanjutkan, jika tidak ada penangan yang tepat, maka ekonomi dunia berpotensi kolaps dalam dua hingga tiga bulan ke depan. "Akar krisis ini apa? yang harus diselesaikan second teknis," kata dia.
"Kita melihat jatuhnya Lehman Brother, Eropa bagaimana caranya memperbaiki banking sistem, fiskal. Ini terjadi jika elit politik mampu merangkul itu dan melupakannya. Jadi sebenanrya proyeksi politis diletakkan di satu tempat, bagaimana hal tersebut dilaksaankan dalam atmosfir politik. Ini jika dalam kondisi dunia saat ini," jelas dia.
Meski demikian, dia melihat Bank Indonesia (BI) sekarang makin mahir melihat kondisi perekonomian dan menjaga likuiditas, yang menjadi penyebab Indonesia kolaps di 1998. "Sekarang kita melihat pemerintah, kita harus melihat dalam batas, Kita tidak boleh menghilangkan skenario terburuk (dari krisis global)," ungkap dia.
Oleh karena itu, dia menyakini diperlukan kepercayaan dan analisa yang baik dalam enam sampai delapan bulan ke depan, guna melihat perkembangan perekonomian global. "Kita harus awasi ekonomi kedepan," tukas dia. (mrt)
Managing Director World Bank Sri Mulyani Indrawati mengungkapkankan, saat ini negara-negara berkembang menjadi pemain yang penting. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi global tidak lepas dari peran negara-negara ini.
"Negara berkembang keadaan ekonmi terkait dengan keterkaitan dengan kemajuan 70 persen kemajuan di asia khususnya Asia Selatan," ungkap dia kala ditemui di gedung BKPM, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (12/7/2012).
Dia melanjutkan, jika tidak ada penangan yang tepat, maka ekonomi dunia berpotensi kolaps dalam dua hingga tiga bulan ke depan. "Akar krisis ini apa? yang harus diselesaikan second teknis," kata dia.
"Kita melihat jatuhnya Lehman Brother, Eropa bagaimana caranya memperbaiki banking sistem, fiskal. Ini terjadi jika elit politik mampu merangkul itu dan melupakannya. Jadi sebenanrya proyeksi politis diletakkan di satu tempat, bagaimana hal tersebut dilaksaankan dalam atmosfir politik. Ini jika dalam kondisi dunia saat ini," jelas dia.
Meski demikian, dia melihat Bank Indonesia (BI) sekarang makin mahir melihat kondisi perekonomian dan menjaga likuiditas, yang menjadi penyebab Indonesia kolaps di 1998. "Sekarang kita melihat pemerintah, kita harus melihat dalam batas, Kita tidak boleh menghilangkan skenario terburuk (dari krisis global)," ungkap dia.
Oleh karena itu, dia menyakini diperlukan kepercayaan dan analisa yang baik dalam enam sampai delapan bulan ke depan, guna melihat perkembangan perekonomian global. "Kita harus awasi ekonomi kedepan," tukas dia. (mrt)